Kamis, 26 September 2013

PRESENTASI
Nama               : Rani. A. Simbolon
Semester          : V (Lima)
Mata Kuliah    : Konseling
Dosen              : Erni. kadJi Naat, M.Th
Sumber Buku  : Konseling Kristen Yang Efektif ; Dr. Gary R Collins

LATAR BELAKANG        
            Problem hidup manusia semakin banyak dan kompleks, mereka memerlukan pertolongan dari orang lain untuk menyelesaikan problem itu, kemudian mengembangkan diri untuk hidup yang lebih baik setelah problem itu selesai dan akhirnya mereka dapat menikmati kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Namun problem ini dimulai ketika manusia jatuh kedalam dosa hingga sekarang.
            Untuk itulah STT IKSM menyediakan program studi Pendidikan Agama Kristen dengan konsentrasi Konseling Kristen yang memperlengkapi para mahasiswa untuk menjadi konselor yang profesioanal dan alkitabiah. Konselor Kristen menunjukkan Kasih Yesus, ketika ia memperhatikan dan menolong orang lain dalam kesulitannya. Orang tersebut menceritakan masalahnya kepada konselor di tempat aman, sambil mencurahkan perasaannya. Konselor mendengarkannya dengan baik, lalu menolongnya mencari solusi efektif untuk mengatasi masalahnya. Diharapkan orang tersebut kembali dengan lega.
            Yakub .B. Susabda dalam Bukunya “Pastoral Konseling” jilid 2, menuliskan bahwa Anger adalah keadaan Emosi yang bisa dialami oleh setiap orang pada saat-saat tertentu , yang bisa diekspresikan secara terpendam maupun terbuka terang-terangan , yang bisa berlaku singkat bisa pula memakan waktu yang panjang dalam bentuk kebencian , dendam dsb.  Anger dapat merusak seesuatu yang destrusctive (Merusak) khususnya kalau Merupakan Ekspresi emosi yang tidak dikendalikan ; bisa juga merupakan sebuah kontructive (Membangun) kalau memotivir kita untuk mengoreksi kesalahan atau mengingat kita untuk dapat berpikir secara lebih baik.
            Pada umumnya anger muncul atau terjadi kalau proses perjalanan hidup kita untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan terhambat. Dan hambatan / blocking ini biasanya akan mempengaruhi reaksi phisik maupun emosi orang yang bersangkutan. Sekali lagi reaksi ini bisa ditekan dan disembunyikan bisa pula diekspresikan terang-terangan dalam bentuk tindakan. Yang pasti bahwa anger ini merupakan faktor yang sangat menentukan timbulnya macam-macam penyakit, kesususahan, inecficiency kerja, pertengkaran, frigidity dan macam-macam gangguan lain.
            Menurut penelitian bahwa penyebab timbulnya kemarahan yang mereka alami bahwa 80 % kemarahan mereka disebabkan oleh karena sikap dan perbuatan –orang-orang lain lebih dari pada disebabkan oleh karena keadaan atau peristiwa tersebut. Hal menunjukkan bahwa banyak gejala-gejala atau hal-hal yang muncul yang terjadi dalam setiap manusia khususnya secara individu untuk itu gereja sangat berperan aktif dalam membantu keadaan-keadaan ataupun permasalahan yang terjadi.
Gereja dan konseling Kristen
             Konseling adalah hubungan timbal balik antara dua individu, yaitu konselor yang berusaha menolong atau membimbing dan konsele yang membutuhkan pengertian untuk mengatasi persoalan yang dihadapinya. Dalam hal ini seorang konselor Kristen akan berusaha mengaplikasikan kebenaran Firman Tuhan atas persoalan-persoalan hidup ini.
            Sebagai konselor Kristen ,kita seharusnya belajar bagaimana Tuhan Yesus mempersiapakan murid-murid-Nya untuk keluar melayani. Ia memberikan kuasa dan penghiburan , bahwa mereka tidak sendiri oleh karena kuasa dari Tuhan akan menyertai mereka (Mat 10:1). Ia juga berpesan kepada mereka kemana mereka harus pergi dan tempat-tempat apa yang harus dihindari (Mat 10:5,6). Kisah rasul-Rasul dan surat-surat dalam Perjanjian Baru mencatat bahwa kadang-kadang gereja mula-mula juga menghadapi ketegangan-ketegangan, persoalan-persoalan, iri hati dan pertikaian-pertikaian. Tetapi Alkitab juga mnyaksikan bahwa pada mulanya mereka mempunyai persekutuan yang indah.
            Hal ini menunjukkan bahwa tidak jauh dengan keadan gereja masa kini pertikaian, penolakan, bahkan kelompok-kelompok ecil yang berhimpun mendapatkan penolakan dari tetangga atau pemerintah. Namun jemaat merupakan kumpulan dari orang-orang yang saling memperhatikan.  Onseling Kristen akan lebih efektif dan konsele akan lebih mudah mengatasi persoalan-persoalan jika mereka menjadi bagian dari jemaat yang saling memperhatikan kebutuhan satu dengan yang lain.
Memperhatikan satu Dengan Yang Lain
            Dalam amanat-Nya yang agung, Tuhan Yesus memberi tugas dan tanggung Jawab bagi gereja, yaitu penginjilan dan pengajran. Biasanya penginjilan selalu disertai dengan pengajaran Kristen. Hal itu meliputi, pengetahan tentang Alkitab, dasar-dasar Alkitab untuk kehidupan Kristen dan Doktrin tentang Allah , keselamatan, doa dan lain-lain. Banyak sekali gereja lupa, bahwa Tuhan Yesus juga mengajar mengenai pernikahan, hubungan dengan anak, kemiskinan dan kebebasan bagi manusia. Artinya bahwa tidak cukup jikalau hanya mengajar doktrin saja akan tetapi mengajar bagaimana menciptakan hubungan yang baik dengan Allah, sesama dan diri sendiri. Alkitab membrikan perintah untuk mengasihi satu dengan yang lain, menerima , menasehati, memperingngatkan, melayani, mnghibur, menanggung beban dan lain-lain sehingga setiap anggota jemaat mempunyai hati yang mau memperhatikan sesama sesuai dengan apa yang diajarkan Alkitab yaitu :
1.      Mempunyai perhatian yang mendalam à dibutuhkan KASIH seperti kita mengasihi diri sendiri yang lebih daripada mengagumi, menyukai dan menunjukkan simpati dan hanya mencoba mengerti persoalan.
2.      Mencoba untuk mengerti
3.      Menghargai dirinya
4.      Berani dan rela memikul resiko
5.      Rela menerima pertolongan orang lain.
Apakah ciri-ciri utama dari sikap memperdulikan sesama ?
Kasih
            Kasih adalah sesuatu yang praktis, penuh belas kasihan. Kasih menjadi begitu dinamis pada saat kita tempatkan dalam konteks “memperdulikan sesama”. Kasih yang emikian lahir dari Bapa dan seharusnya menjadi sifat utama pengikut Kristus (1 yoh 4:7,11). Kasih adalah modal utama dalam setiap pelayanan kita, dan kasih yang murni timbul bila kita sudsh diperbaharui oleh kasih Kristus dan membiarkan seluruh hidup kita dikontrol oleh Roh Kudus. Tempat yang paling tepat  untuk mulai menerapkannya adalah digereja, karena anggota-anggota tubuh Kristus merupakan kumpulan dari orang-orang yang dipenuhi Roh Kudus.
Kesabaran
            Kita baru mengerti perlunya kesabaran bila kita menghadapi kasus dimana ada konsele tidak menunjukkan adanya perubahan apa-apa. Sama seperti kasih, kesabaran juga datangnya dari Allah, dan merupakan buah-buah Roh gal 5:22, yang seringkali muncul dengan lambat dan justru timbul melalui kesulitan-kesulitan (Yak 1:2-5).
             Seorang yang sabar mau memeberikan kesempatan kepada orang lain untuk tumbuh pada waktunya, memberi kesempatan untuk berpikir tanpa menekan atau memaksa untuk mengambil keputusan secepatnya.
Keterbukaan
Bila seseorang ingin ditolong ia harus menyadari apa yang ada dalam perasaannya bahkan yang negatif dan memalukan sekalipun.
Pengharapan
Pengharapan Kristen bukan berarti mendorong orang untuk menolak realita yang mereka hadapi, dengan menghabiskan waktu berkahyal atas hal-hal yang tidak realistis. Pengharapan bagi orang Kristen adalah bersukacita dalam kebijaksanaan dan kemurahan Allah, berarrti menerima kenyataan bahwa jalan dan waktu Tuhan selalu tepat dan terbaik, sehingga mendorong kita mencari pimpinan-Nya, belajar untuk berkata “bapa Kehendak-Mu lah Yang Jadi”.
Fleksibelitas
Memperdulikan orang lain berarti kita hrus menerima mereka , mau bertumbuh dan rela untuk belajar dan mengubah diri sendiri.
Kerendahan hati
Tak seorangpun dapat kita tolong jikalu kita tidak mau benar-benar memelihara diri dengan kerendahan hati dengan orang yang kita layani. Kerendahan hati bukanlah tehnik berpura-pura, tetapi sungguh tulus, mau belajar dan tidak memegahkan diri dengan apa yang dibuatnya terhadap sesama.
Apakah arti “Gereja yang paling memperdulikan ?”
Kita hidup disekeliling orang-orang yang membutuhkan pertolongan, yang kesepian, yang hidupnya kosong, keluarga-keluarga berantakan, yang miskin, yang mengalami ketidakadilan, kejahatan dan problema-problema kehidupn yang lain. Memang geraja sudah berusaha mengangani ini dengan berbagai cara, tetapi kadang-kadang kita menjadi begitu aktif dalam pelayanan sosial dan justru mengesampingkan kebutuhan masyarakat dan memandang bahwa penginjilan adalah tanggung jawab yang paling utama dari orang-orang yang membutuhkan pertolongan ini.
            Tuhan Yesus tidak hanya berkotbah kepada banayak orang tetapi Ia juga memperhatikan kebutuhan-kebutuhan pribadi mereka seharusnya gereja juga elakukan hal yang sama. Kita harus memberitakan injil tetapi kita juga harus melayani mereka. Gereja  yang saling memperdulikan harus memiliki 9 tanda, meskipun setiap gereja adalah unik dan kondis masing-masing gereja tidak sama :
1.      Terdiri dari jemaat yang percaya pada Tuhan Yesus sebagai Jurus selamat dan mau hidup sesuai dengan kebenaran Firman-Nya.
2.      Pemimpin-pemimpin gereja yang saling memperdulikan termasuk pendetanya, terdiri dari orang-orang yang benar-benar rindu untuk tumbuh sebagai anak-anak Allah dan dengan tulus memperhatikan kebutuhan orang lain.
3.      Suasana kebaktian di gereja yang saling emperdulikan berpusatkan pada Kristus dan pembinaan persaudaraan.
4.      Gereja yang saling memperdulikan jug memberikan kesempatan bagi jemaat untuk saling menenggung beban dan saling membantu, sehingga ada kesempatan bagi pendeta untuk bekerja sama dengan jemaat untuk saling mendukung dalam pelayanan.
5.      Kelompok doa, PA dan pelaanan luar juga diteknkan.
6.      Pra pengajar juga memperhatikan kebutuhan  murid-murid-Nya.
7.      Mempunyai beban misi, tidak sahja bagi masyarakat sekitar tetapi juga di bagian dunia yang lain.
8.      Memberikan kesempatan kepada jemaat untuk memberikan persembahan maupun pelatyanan mereka dalam berbagai bidang.
9.      Jabatan kepemimpinan diberikan kepda mereka yang mendemonstrasikan sikap dan perbuatan sebagai sikap dan perbuatan murid Kristus yang patut di teladani dan pada saat mereka yang sungguh-sungguh memperhatikan selamanya.
Dalam 1 petrus 2:5, gereja di ibaratkan sebagai bangunan yang terdiri dari batu-batu yang hidup dan persekutuan dengan iman yang memeprsembahkan korban yang hidup dan kudus bagi Allah. Dan sebagai jemaat kita adalah persekutuan para imam, yaitu orang-orang yang mempersembahkan persembahan rohani kepada Tuhan. Kita tidak lagi memebrikan korban bakaran akan tetapi tubuh kita lah yang menjadi korban yang hidup bagi Allah (Roma 12:1).
Bagaimana Hubungan antara sikap saling memperdulikan dengan Konseling?
            Sebenarnya tidak ada gereja yang dapat menjadi tubuh Kristus yang saling memeperdulikan, jikalau para pemimpinnya sendiri tidak dapat menjadi model yang baik. Tuhan Yesus adalah satu-satunya model yang sejati. Tuhan Yesus dan jemaat mula-mula memperdulikan orang lain dengan beberapa cara; mereka menghibur yang susah, melayani orang yang sakit, memberi makan yang lapar, menguatkan yang lesu, memberi semangat yang kecewa , mendoakan dst. Mereka juga membimbing orang-orang yang mempunyai masalah-masalah mental dan rohani.
            Bertahun-tahun, banyak konselor yang profesional terpengaruh oleh ajaran dari frud. Di luar konseling, freud bertemu secar pribadi dengan konselenya. Ia tidak menaruh perhatian kepada keluarga konsele dan orang-orang yang memperdulikan keadaannya, seperti gereja dan lain sebagainya. Baginya cukup hanya konsele dan konselor saja. Namun banyak hamba Tuhan menolak teori Freud, namun secara praktis telah menerima pandangannya, bahwa konseling harus melibatkan dua orang  saja, dan sebaiknya dilakukan dalam kamar praktek. Buku-buku yang mula-mula ditulis Freud tidak melihat pentingnya melibatkan keluarga, suami-istri bukan kelompok-kelompok orang-orang lain. Padahal Tuhan Yesus selalau melibatkan orang-orang lain dalam bimbingan dan pelayanannya.

Kesimpulan :
            Jadi,Sejak Zaman dahulu sampai masa kini manusia sudah banyak mengalami masalah dan hal ini akan mempengaruhi banyak aspek hidup manusia sehingga manusia harus dibimbing  dan diberi perhatian. Dan masalah ini dimulai sejak manusia jatuh kedalam dosa dan hingga sampai sekarang.

Sehingga gereja berperan akan memberi perhatian khusus bagi orang-orang yang membutuhkan.  Gereja akan bangkit dan memperdulikan akan tetapi sebagai modalnya harus mempunyai KASIH ataupun Buah-buah Roh.